Tuesday, April 5, 2016

Pura Mobil Nusa Penida

Hari kedua SDT berada diNusa Penida, setelah melewati malam panjang di Pura Dalem Ped dan Pura Dalem Bungkut dalam suasana mencekam. Kurang istirahat dan kurang tidur. Namun semuanya terbayar ketika pagi hari kami menikmati indahnya pagi di kebun salah seorang warga. Kopi, pisang goreng dan pemandangan desa dengan suara binatang seperti kambing, babi, sapi dan ayam sungguh menyegarkan. Setelah mandi kami dari Pura Dalem Bungkut sepakat menuju Pura Mobil dan berencana membeli sarapan di perjalanan. 
Namun, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan satupun pedagang makanan, hingga kami benar-benar kelaparan. Jalan yang rusak berat, laut dan jurang terpampang didepan kami. Mengendarai sepeda motor terasa seperti naik rodeo karena jalan yang rusak parah.
Setelah kira-kira 3 jam menempuh perjalanan, semuanya seperti terbayar, kami menemukan pohon juwet yang berbuah lebat, hitam-hitam dan manis, cukuplah untuk mengganjal perut kami. Namun dari semuanya itu, pemandangan pantainya benar-benar sangat memukau dan membuat jiwa benar-benar tenang. Saat itulah, saat mendalam rasa syukur kami karena diberkahi waktu dan kesehatan untuk menyaksikan langsung kepingan Syurga yang jatuh kebumi.
Indahnya pantai sepanjang Pura Mobil

Mobil klasik yang paling banyak digemari jenis mobil Volkswagen Beetle atau yang lebih dikenal VW Kodok dan mobil Jimny. Hingga sekarang, mobil jenis ini masih diminati dan digemari karena bentuknya yang imut dan unik. Mobil VW dirancang oleh seorang insinyur otomotif berkebangsaan Austria bernama Ferdinand Porsche. Mobil ini berasal dari Jerman yang diproduksi mulai tahun 1938-2003. Sedangkan mobil Jimny diproduksi oleh perusahaan industri otomotif Suzuki dan dibuat pertama kali pada tahun 1970. Namun, di Bali tepatnya di Banjar Karang Dawa, Desa Pakraman Dwi Kukuh Lestari, Nusa Penida terdapat pelinggih yang terbuat dari batu padas berbentuk mobil Volkswagen Beetle (VW Kodok) dan mobil Jimny di Pura Paluang.
Keberadaan Pelinggih mobil ini diyakini masyarakat setempat sudah ada sejak zaman dahulu sebelum kedua jenis mobil tersebut diproduksi. Menurut Jero Mangku I Wayan Suar, Pemangku Pura Paluang mengatakan keberadaan pelinggih mobil tersebut diketahui sudah ada pada awal tahun 1900-an. “Pada tahun itu di Nusa Penida belum ada mobil, masyarakat disini tidak tahu bentuk mobil itu seperti apa. Apalagi akses jalan disini dulu masih jalan setapak, tidak bisa dilalui mobil,”. Menurut Beliau memang tidak ada prasasti terkait mengenai sejarah keberadaan Pura Paluang. “Bahkan dari beberapa penuturan orang-orang yang sudah sepuh saya mendapat informasi kalau pura ini diperkirakan ada sejak 300 tahun yang lalu,”. Semua informasi mengenai pura ini berdasarkan cerita para orang-orang tua terdahulu.
SDT 2015
PURA TERUNIK VERSI SDT

Sunday, March 27, 2016

Pura ER JERUK

Pura Yang memiliki nilai kesakralan yang tinggi. Meskipun pura ini terletak di sebelah jalan raya, namun nilai magis nya sangat terasa, terbukti bahwa saya mendengar suara jauh gamelan yang melantunkan tembang anak "Curik-curik" namun hanya beberapa detik sebelum akhirnya menghilang.

Banyak fungsi dimiliki Pura Er Jeruk. Selain sebagai pura subak, juga diyakini menjadi tempat tepat memohon anak. Agar suami istri punya keturunan.

Daun kampuak (sejenis pohon jambu hutan) yang tumbuh subur di areal jeroan (halaman paling dalam), memiliki lingkar batang lebih dari tiga meter, sangat menyejukan kami saat SDT tangkil ke Pura Er Jeruk. SDT sebenarnya tidak sengaja untuk tangkil ke pura ini, karena perjalanan tirtayatra kami berawal di Goa Gong Jimbaran. Dan melenceng jauh ke Sukawati. Namun begitulah perjalanan kami yang mugkin sudah dikehendaki oleh Ida, karena Letak Pura Er Jeruk berada di wawengkon Banjar Gelumpang, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Pura ini termasuk pura Sad Kahyangan.

Er Jeruk. Pura yang berjarak kurang lebih 200 meter dari jalan raya Tohpati – Kusamba itu, memang sering ‘diserbu’ warga Hindu . Bukan saja warga Sukawati, juga banyak dari berbagai pelosok daerah di Bali dan luar daerah.
Patung Suci Ratu Brayut Dari Batu Padas

Kedatangan mereka tentu memiliki berbagai kepentingan. Ada yang mohon keselamatan supaya tanaman di huma tumbuh subur, sekadar ingin sembahyang, dan ada pula khusus datang guna mohon keturunan.
Pura Tepat Untuk Memohon Keturunan

Saturday, March 12, 2016

Pura Kancing Gumi

Salah satu Tempat dasyat untuk Meditasi. Pura yang megah dan indah, sejatinya menjadi salah satu pura yang memegang arti penting dalam bentang kosmologi-spiritual Bali. Seperti namanya, pura ini merupakan kunci yang menentukan kestabilan Pulau Bali bahkan dunia. Karenanya, di kalangan warga Desa Adat Batu Lantang, pura ini diyakini sebagai penekek jagat (penguat atau penjaga stabilitas dunia).
Memang, ihwal kelahiran Pura Kancing Gumi dikaitkan dengan mitos masa-masa awal terjadinya Pulau Bali yang tidak stabil. Sebagaimana ditulis dalam sumber-sumber susastra tradisional seperti lontar atau pun purana, awalnya keadaan Pulau Bali dan Lombok sangatlah labil juga sepi tanpa penghuni. Ibarat perahu tanpa pengemudi, keadaan pulau ini oleng tidak menentu arahnya.
Keadaan ini membuat Batara Hyang Pasupati kasihan dan ingin menstabilkannya. Kala itu di Bali baru terdapat empat gunung yakni Gunung Lempuyang di timur, Gunung Andakasa di selatan, Gunung Batukaru di barat dan Gunung Beratan di utara. Akhirnya, untuk menstabilkan Pulau Bali, Hyang Pasupati memotong puncak Gunung Semeru di Jawa Timur dan menancapkannya di Pulau Bali dan Lombok. Keadaan Pulau Bali dan Lombok pun stabil.
Selanjutnya, dalam Dewa Purana disebutkan, setelah keadaan Pulau Bali stabil, Bhatara Hyang Pasupati menyebarkan amertha berupa lingga-lingga. Sebagai pacek (pancang) gumi Bali ditancapkan sebuah lingga di sebuah pebukitan yang belakangan dikenal dengan nama Batu Lantang. Lingga itulah kemudian dikenal sebagai Hyang Gunung Alas atau Hyang Kancing Gumi. Sumber-sumber sejarah menyebutkan, sebelum dikenal istilah pura di Bali lebih dikenal istilah hyang.
ah dan lain daripada yang lain. 
Yang lebih istimewa lagi, di Pura ini kita akan bertemu dengan Jro Mangku yang sangat menyenangkan. Hidangan kopi, abu hitam dari Lingga akan dihiaskan di dahi sesudah kita oleskan di lidah, membuat kami merasa sangat senang.
Bakta Siwa sungkem kepada LINGGA YONI

Saturday, March 5, 2016

Pelukatan Ring Pucak Tedung


Sebelum melalukan sembahyangan ring pura luhur pucak Tedung semeton bs memulai nunas pengelukatan ring beji pura pucak tedung. Tirta biru yg alami keluar dari bawah pohon sebagai beji dari pura pucak tedung. Air Biru yang keluar dari pohon bercampur dengan 5 mata air atau 5 klembutan yang membuat air kolam berwarna biru muda. Kemudian air keluar dengan deras dan sangat deras.

Sebelum melukat Jro mangku akan menuntun ngaturang pejati matur pakeling nunas pengelukatan yg di awali dengan melakukan persembahyangan bersama . Setelah itu kita bisa mandi alias melukat dan baru nunas tirta yg di tuntun oleh jro mangku.
Suasana alam indah dengan udara yg penuh O2 mengantarkan nafas kita menuju ketenangan sesungguhnya..

Kedamaian bhatin begitu nyata terasa ... Aura Positif bercampur dengan kesakralan tempat ini, sungguh sangat memukau jiwa kami.

Trimakasih Tuhan kami keluarga besar Sekeha demen tirtayatra nunas pengelukatan berjalan lancar.
Hanya menempuh waktu 1 jam dari denpasar untuk bs sungkem ring pura Pucak Tedung..

Setelah melukat, kita bisa sembahyang di pura Puncak Tedun yang sangat luar biasa indah dan megah. Saya hanya bisa memandang dengan kagum dengan keberadaan Lingga Yoni yang sangat disakralkan. Begitu alam memberi energi positif bagi kami yang sangat kami syukuri. Suksma TYME.
Berikut ini no telp Jro Mangku Pucak Tedun : 081337726363
Beji Pucak Tedung Yang Indah

Saturday, February 20, 2016

PURA TAP SAI

Pura ini terletak dekat dengan pura Besakih. Sebelum Pura Dalem Puri, belok kiri ikutin jalan sampai bertemu pertigaan belok kanan. Pura ini sangat mudah ditemukan karena banyaknya tanda untuk menuju kesana dan masyarakat sekitar banyak yang tahu lokasi Pura ini, jadi saran saya daripada mencari menggunakan Map, lebih baik dan cepat untuk bertanya langsung karena jalan bagus.
Arah menuju Pura Tap Sai

Pura indah dan tenang. Sebelum ke Luhur kita bisa nunas pelukatan ring Beji.
Keindahan dan suasana Magis sangan terasa begitu anda memasuki Pura indah ini. Pura yang berada ditengah hutan berbukitan ini, sungguh bagai Kepingan Surga yang terjatuh dari langit.
Luhur Pura Tap Sai
Maturan sebelum naik ke Luhur
Pura Tap Sai, menurut Jro Mangku, Tap sai berasal dari kata Tapa Sesai atau sering bertapa. Jadi jika anda ingin bermeditasi, disinilah tempat yang sangat saya rekomendasikan. Tempatnya tenang, sejuk, mudah dijangkau dan berasa menyatu dengan alam. Semoga tulisan ini bermanfaat.


  

Monday, November 9, 2015

Pura Pucak Sangkur

PuraPucak Sangkur
Moksahnya Ida Rsi Sagening
Pura Pucak Bukit Sangkur ini ada kaitannya dengan berbagai Pura Kahyangan Jagat di Bali. Dalam Lontar Tantu Pagelaran diceritakan secara mitologis Gunung Maha Meru di India, puncaknya menjulang sangat tinggi hampir menyentuh langit. Kalau langit sampai tersentuh oleh puncak Gunung Maha Meru itu maka alam ini pun akan hancur lebur. Saat itu Jawa dan Bali dalam keadaan guncang atau disebut enggang enggung.

Hyang Pasupati memotong puncak Maha Meru tersebut terus dibawa ke Jawa. Pecahan puncak tersebut ditaburkan dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Pecahan Maha Meru itulah yang menjadi gunung-gunung yang berderet dari Jawa Barat sampai Jawa Timur. Di Jawa Timur puncak Maha Meru itulah menjadi Gunung Semeru. Setelah itu Pulau Jawa menjadi tenang. Tetapi Bali masih enggang-enggung atau guncang. Karena itu, Hyang Pasupati terbang ke Bali membawa puncak Gunung Maha Meru tersebut.

Puncaknya sekali menjadi Gunung Agung, bagian tengahnya menjadi Gunung Batur dan dasarnya menjadi Gunung Rinjani di Lombok. Serpihan-serpihannya menjadi gunung-gunung kecil dan bukit-bukit yang mengelilingi Pulau Bali. Setelah itu Bali menjadi tenang. Gunung-gunung kecil itu antara lain menjadi puncak Mangu, Teratai Bang, Gunung Tampud, Lempuhyang, termasuk Bukit Pucak Sangkur tempat didirikannya Pura Pucak Resi itu.

Dalam Lontar Purana Pura Pucak Resi diceritakan di zaman dahulu ada seorang suci bernama Ida Sang Resi Madura berasal dari Gunung Raung, Jawa Timur. Beliau Sang Resi juga disebut sebagai Acarya Kering. Ida Sang Resi Madura ini sering mengadakan perjalanan bolak-balik Jawa-Bali. Suatu hari dalam Yoga Semadinya Sang Resi mendapatkan suaraniskala yang menugaskan Sang Resi agar menuju Danau Beratan. Sang Resi pun mengikuti suara gaib tersebut. Sang Resi diiringi oleh pembantunya bernama I Patiga. Sampai di Bali, Sang Resi menuju puncak bukit.

Di puncak bukit itulah Ida Sang Resi Madura membangun pura dengan nama Parhyangan Pucak Resi sebagai pemujaan Batara Hyang Siwa Pasupati. Setelah itu Sang Resi Madura ini mengadakan perjalanan menuju ke puncak Teratai Bang, Bukit Watusesa sampai ke Bukit Asah.
Menaiki 400 anak tangga akhirnya kami sampe di puncak.
Ngatur ngayah..nyapu...kemudian kami sembahyang.
Bersambung ke Perjalanan kami menuju Pucak sangkur
SDT 2015
Ipoet Tusenloka

Sunday, October 25, 2015

Pancoran Solas Belayu

Kali kedua saya dan rombongan SDT melukat ke Pancoran Solas yang beralamat di Tabanan, Belayu, Br. Batan Nyuh. Mungkin ini keberuntungan bagi kami karena kami menemukan jalan yang lebih landai menuju Pancoran Solas dibanding pertama kali kami kesana. Lewat Gang sebelah toko Kayu utara Pura.
Menyeberang menuju Pancoran. Pastikan membawa bekal air, supaya tidak bolak balik.


Selain untuk menjernihkan pikiran,mata anda juga dimanjakan oleh alamnya yang hijau.
Pancoran Solas Belayu Tabanan